BRMP Bali Laksanakan Identifikasi Petani Penerap Modernisasi di Kabupaten Bangli
Bangli, 21 Mei 2026 — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali melaksanakan kegiatan identifikasi petani penerap modernisasi pertanian yang berlokasi di Subak Tembuku Kangin, Desa Tembuku, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.
Petani penerap modernisasi merupakan petani yang mulai menerapkan cara-cara baru dan penggunaan teknologi dalam kegiatan usaha tani guna meningkatkan produksi, efisiensi usaha, serta mengurangi ketergantungan terhadap metode tradisional.
Modernisasi pertanian yang diterapkan meliputi teknologi budidaya, mekanisasi alat pertanian, pemanfaatan informasi dan digitalisasi, manajemen usaha tani, hingga penanganan pascapanen dan pemasaran. Seluruh penerapan teknologi tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, mengurangi risiko gagal panen, serta meningkatkan pendapatan petani.
Salah satu petani yang menjadi objek identifikasi adalah I Wayan Budarja, petani di Subak Tembuku Kangin, Desa Tembuku, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Ia merupakan petani pelaksana kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT), salah satu kegiatan BPTP pada tahun 2014–2015.
Dalam usahataninya, I Wayan Budarja menerapkan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dengan sistem tanam jajar legowo serta penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari 28 yang adaptif untuk dataran tinggi di atas 600 mdpl. Selain itu, ia juga pernah menanam VUB Inpari 24 beras merah.
Hingga saat ini, sistem tanam jajar legowo masih terus diterapkan karena telah terbukti mampu meningkatkan hasil produksi. Namun, untuk varietas Inpari 28, dalam beberapa tahun terakhir mulai sulit diperoleh sehingga digantikan dengan varietas Inpari 32 dan Inpari 48.
Dalam penerapan mekanisasi pertanian, pengolahan tanah telah menggunakan traktor dan proses panen menggunakan power thresher. Sementara itu, kegiatan penanaman masih dilakukan secara manual. Kondisi ini disebabkan alat tanam bantuan pemerintah berupa transplanter dinilai terlalu besar dan sulit digunakan pada kondisi lahan yang tidak rata serta petakan sawah yang relatif kecil.
Sejak diperkenalkan pada tahun 2015, sistem tanam jajar legowo masih konsisten diterapkan oleh petani dengan pola jajar legowo 2:1 dan 6:1. Konsistensi petani dalam menerapkan teknologi yang telah didiseminasikan menunjukkan bahwa teknologi tersebut memberikan manfaat nyata dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.
Melalui penerapan teknologi modernisasi pertanian yang berkelanjutan, diharapkan produktivitas usaha tani semakin meningkat sehingga mampu mendukung peningkatan kesejahteraan dan pendapatan petani.
Tim LTT Bangli